Jumat, 26 Juli 2013

MyStory


Everything is Gonna Be OK

       “Aaaaahhh... pagi yang segeer.”, Rena membuka jendela kamarnya dan menghirup udara pagi di perkebunan teh itu. Yaa, Rena sedang berlibur di perkebunan teh milik Ayahnya, di Daerah Puncak. Pagi itu masih sektar pukul 05.00, Rena sedah berjalan-jalan di sekitar perkebunan teh milik Ayahnya. Waktu dengan cepat berganti, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 08.00, panas matahari sudah mulai menyengat, Rena pun memutuskan untuk kembali ke villa tempat Ia tinggal untuk sementara.

“Kamu dari mana, Sayang ? tumben pagi-pagi udah keluar rumah ?” tanya Mama Rena.

“Iya nih ma, aku pengen jalan-jalan tadi, jadinya keluar deh.”

“Yaudah, kamu cepet mandi sana. Bi Inah udah siapin sarapan buat kamu, Mama sama Ayah mau ke kebun dulu.”

“Iya deh ,Ma. Tapi Ma, Ayah mana ya ? Kok Rena belum liat Ayah?”

“Ayah udah ke kebun duluan. Yaudah, Mama berangkat dulu ya.”

“Iya, Ma...”

Rena bergegas mandi dan menyantap sarapannya. Setelah selesai sarapan, Rena lalu duduk di jendela kamarnya sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba Rena mendengar suara benda pecah. Rena pun keget. Ia melompat ke luar jendela dan mencari tahu suara apa tadi. Di sudut tidak jauh dari tempat Rena berdiri, terlihat seorang Lelaki yang tampaknya sedang kebingungan. Bergegas Rena menghampiri lelaki tadi.

“Tadi suara apa ?” Tanya Rena pada Lelaki itu

“Oh, itu suara guci saya yang pecah.” Jawab lelaki itu dengan gugup

“Guci ? Elo buat guci ?”

“Iya, saya yang buat guci itu.”

“Pesenan ya ?”

“Iya, pemilik villa itu yang pesen” Jelas Lelaki tadi sambil menunjuk villa Rena.

“Eh, siapa yang pesen ?”

“Pak Darmawan, pemilik villa sekaligus kebun teh di daerah sini.”

“Haah ? Ayah ?”Tanya Rena kaget.

“Kamu anak Pak Darmawan ?” Lelaki itu ikut bingung.

“I...I...Iya”Jawab Rena gugup.

“Emang, sama ayah mau diambil kapan ?”

“Besok mbak.”

“Eh, jangan panggil gue mbak dong. Gue kam masih SMA bukan mbak-mbak.”

“Trus saya panggilnya apa dong kalo bukan mbak ?”

“Panggil nama gue aja. Oh, iya gue Rena.” Ucap Rena sambil mengulurkan tangan.

“Eh, iya mbak... Eh, iya, Re. Saya Nino.”

“Okedeh.. Emang ayah pesennya guci berapa ?”

“Dua, tapi yang besar-besar, Re.”

“Mmmm, gimana kalo elo gue bantu buat guci lagi ?”

“Emangnya kamu bisa ?”

“Bisa kok. Dulu waktu di rumah eyang di Jogja pernah belajar buat gerabah.” Yakin Rena.

“Boleh tuh, Ayo ikut ke rumah aku.” Nino berjalan perlahan, Rena pun mengikuti.

       Sesampainya di rumah Nino, Nino langsung memberi tahu Rena di mana tempat gerabah itu dibuat. Tanpa basa-basi, Rena langsung menuju tempat itu dan mulai membuat guci yang telah Ia janjikan kepada Nino. Nino hanya tersenyum melihat kelakuan Rena yang sepertinya sudah tidak sabar untuk membuat gerabah.

       Perbincangan pun tetap terjadi, dan tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 14.00. Guci yang dibuat pun sudah dijemur. Tinggal menunggu kering. Nino pun bergegas mengantar Rena pulang.

“Makasih ya, Re. Udah mau bantu aku buat guci lagi.”

“Sama-sama deh. Elo yakin aja, everything is gonna be OK.” Ujar Rena sambil tersenyum

“Iyaa..” Nino balik tersenyum

“Gue yakin pasti besok elo udah bisa anter guci itu kesini. Ok, gue masuk dulu ya. Bye...”

“Iya, aku juga pamit mau pulang.”

***

“Assalamu’alaikum...” Teriak Nino dar luar villa Rena

“Wa’alaikum salam... Eh, elo Nin, bentar ya, gue panggilin ayah dulu...”

“Iya, Re...”

“Ayaaaaahhhhh.... Ada yang nyariin nih...” Rena berteriak memanggil ayahnya

“Ya ampun Renaa.... Kamu kenapa sih, kok teriak-teriak ?” Tanya Ayah Rena

“Ini yah... Ada yang nyariin...”

“Siapa ?”

“Mmmm, saya pak...” Nino mengeluarkan suara.

“Oh, kamu... Gimana gucinya ? Sudah jadi ya ?”

“Iya, pak. Ini gucinya sudah jadi..”

“Oh iya... Makasih ya, saya tinggal ke dalem dulu, mau ambil uangnya.”

“Iya, Pak...”

“Habis ini temenin gue jalan-jalan yukk...” Ajak Rena pada Nino

“Ke mana ?”

“Mana aja deh, elo kan yang tau daerah sin. Gue ngikut aja kok...”

“Boleh juga tuh, Aku juga lagi nggak ada kerjaan.”

“Okedeh... Nanti gue samperin elo ke rumah elo... Sekitar 15 menit lagi ya ?”

“Iya....”

       Rena bergegas masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama Nino. Sesekali Mama dan Ayah Rena bingung dengan apa yang dilakukan oleh Rena. Akhir-akhir ini Rena jarang berada di rumah. Berbeda jauh pada saat awal liburan.

       Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa waktu liburan Rena sudah mau habis. Rena dan keluarganya harus segera kembali ke Jakarta untuk persiapan hari pertama Rena masuk sekolah.

       Tibalah hari yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Rena. Yaa, Rena harus berpisah dengan Nino. Orang yang sekaran sudah sangat dekat dengan dia. Hati Rena berat untuk meninggalkan Nino. Mangucapkan kata selamat tinggal saja susahnya minta ampun, apalagi kalau suruh berpisah ? Air mata pasti terbendung.

       Tiga puluh menit sebelum Rena pulang, Rena menyempatkan diri untuk mengajak Nino bertemu. Entah untuk yang terakhir kalinya atau bukan. Tepat tiga puluh menit sebelum Rena pulang ke Jakarta, Rena sudah berada di pinggir sungai tempat Rena mengajan Nino bertemu. Lima belas menit sudah Rena menunggu Nino, tapi Nino belum juga terlihat. Mama Rena sudah terus menerus menghubungi Rena. Mengingatkan Rena banhwa sebentar lagi Ia aan kembali ke Jakarta. Tepat satu menit sebelum Rena pulang, Nino belum juga datang. Air mata Rena mulai mengalir deras.

       Di saat-saat seperti ini, Rena membutuhkan Nino. Handphone Rena berbunyi. SMS dari Mama Rena. Kali ini Mama Rena meminta agar Rena cepat pulang, karena sudah saatnya Rena kembali ke Jakarta.

       Beberapa langkah sebelum memasuki jalan raya, Nino berlari mengejar Rena dan memeluknya dari belakang. Air mata Rena mengalir lebih deras ketika Ia tahu bahwa, Nino lah yang memeluknya dari belakang.

       Dengan berat hati, Nino melepaskan pelukannya dan meraih tangan Rena.

“Re, maafin aku ya. Sebenarnya daritadi aku ada di balik pohon besar itu. Aku gak kuat nglepas kamu, Re. Aku nggak mau kehilangan kamu, walaupun kita baru aja kenal.” Tanpa disadari air mata Nino ikut keluar.

“Gue juga nggak mau ninggalin elo, Ni. Tapi ini udah nggak bisa ditunda. Besok gue udah masuk sekolah. Gue janji, kalo weekend gue pasti ke sini. Elo jangan lupa hubungin gue terus ya. Gue nggak mau Lost Communication sama elo.” Ucap Rena di sela-sela tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

“Tenang aja Re, gue gak bakal lupa untuk hubungin elo kok.” Ucap Nino sambil tersenyum.

“Yaudah, sekarang elo gue anter pulang ya. Mama sama Ayah elo pasti udah nunggu.” Ucap Nino sambil menuntun Rena

       Rena hanya bisa mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. Nino pun mengantar Rena pulang.

       Sesampainya di rumah Rena, Mama Rena langsung menghampiri Rena.

“Loh, Rena kamu kenapa, Sayang ? Nino, Rena kenapa ?”

“Gak papa kok, Ma. Aku gak papa.”

       Rena langsung naik ke mobil yang telah menunggunya.

“Nino, Tante sekeluarga mau pamit dulu ya. Maksih selama ini udah mau nemenin Rena selama tinggal di sini.”

“Iya, tante. Nino juga makasih sama Tante sekeluarga. Salam buat Pak Darmawan sama Rena ya, Tan...”

“Iya, Nino. Yaudah, Tante pamit dulu ya, Assalamu’alaikum...”
 
 
~TO BE CONTINUE~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar